Hanzalah Munafik?

Satu ketika seorang sahabat Rasulullah saw mendapati suatu keadaan didalam hatinya yang sedemikian rupa sehingga dia menyangka bahwa dirinya telah berubah menjadi munafik. Sahabat itu Hanzalah ra. namanya.



Sebelum itu, dia bersama sahabat2 yang lain berada dalam suatu majelis saat Rasulullah saw menerangkan perihal akhirat. Sedemikian rupa Rasulullah saw menjelaskan, sehingga siapapun yang hadir se-olah2 dapat melihat surga dan neraka di depan mereka, maka air matapun berguguran tanpa dapat mereka manahannya.

Selepas itu, perbincangan2, senda gurau dalam keluarga di rumah telah membuat Hanzalah merasa suka hati. Sejurus kemudian, diapun menyadari betapa keadaan hatinya telah berubah 180 derajat dibandingkan dengan saat bersama Rasulullah saw. Suasana hati di rumah berbeda dengan di masjid. Lalu dia menyimpulkan dirinya sendiri bahwa dia seorang munafik.

Menyadari 'kekeliruannya' tersebut, maka Hanzalah berlari keluar rumah dan berteriak, "Hanzalah telah munafik… Hanzalah telah munafik…" Demikian dia mengumumkan perubahan dirinya hingga dia bertemu dengan sahabat Abu Bakar ra.

Setelah tahu duduk masalahnya, Abu Bakar pula merasa dirinya serupa dengan Hanzalah. Maka keduanya pergi menjumpai Rasulullah saw, menyampaikan masalah mereka dan berharap agar Rasulullah saw dapat memberi mereka jalan keluarnya.

“Demikianlah keadaan manusia. Kalau saja mereka dapat menjaga keadaan hati mereka sebagaimana saat bersama Rasulullah saw, niscaya malaikat2 akan menyalami mereka dimana saja mereka berada. Sayangnya, keadaan yang demikian sangat jarang terjadi.” Demikian kira2 penjelasan Rasulullah saw kepada keduanya atau dengan kata2 yang seumpama dengan itu.

Dan kita tahu bahwa keduanya adalah sahabat2 yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Untuk itu, biarkan saja segala sesuatu di sekitar kita berjalan dengan sewajarnya dan sebagaimana mestinya. Yang penting dalam hal ini adalah, bersamaan dengan bergeraknya masa ke depan, kita berusaha untuk memperbaiki hati dan niat kita dengan cara berusaha menunaikan takaza2 agama dan dengan menyempurnakan amal2 agama sesuai dengan batas2 kemampuan terbaik kita.

Hari ini, barangkali kita belum sebaik orang2 yang sudah ‘sampai’. Namun demikian, pengalaman telah mengajarkan kita, bahwa usaha kita di jalan dakwah adalah usaha yang hak, yang pada gilirannya dapat menjadikan kita cinta kepada Allah dan Rasul-Nya lebih daripada yang lainnya. Tentu saja, perkara yang demikian dapat terwujud karena dakwah sendiri adalah sarana utama yang dapat menyampaikan kita kepada Allah swt.

Tahapan untuk itu adalah:
1. Belajar, yakni dengan cara melihat, mendengar, membaca dan muzakarah atau tukar pikiran saat keluar dakwah atau saat buat amal maqomi (tempatan).
2. Beramal dengan berusaha memprioritaskan amal2 yang sudah dapat kita lakukan secara istiqomah dan berusaha menunaikan amal2 yang sudah kita tahu.
3. Berdakwah dengan kemampuan sendiri (harta & diri) pada setiap keadaan yang memungkinkan kita melakukan hal itu (karena dakwah adalah maksud hidup kita).
4. Berreplikasi, yaitu dengan berusaha menjadikan orang2 lain berbuat serupa dengan apa yang kita lakukan, setidaknya menjadikan mereka da’i2 bagi keluarganya.

Ajib, kita akan merasakan perubahan ke arah yang lebih baik, segera setelah kita melakukannya. Jangankan orang2 yang sudah punya dasar2 agama yang baik, bahkan para penjahatpun dapat berubah ke arah yang lebih baik asbab kerja dakwah ini. Dan kalau saja kita dapat bergerak di muka bumi hingga ke pelosok2-nya, maka bukti2 itu akan nampak di depan mata kita. Dengan bergerak, yakin kita akan kerja nabi dan rasul ini akan terus bertambah baik, insya Allah.

Bunga2 iman, seumpama menangis dalam sholat yang melegakan, memberi sesuatu kepada orang lain dengan tanpa merasa rugi, atau amal2 ikhlas lainnya yang seumpama dengan itu, dapat kita jumpai lebih banyak di jalan dakwah. Maka saat2 iman kita sedang naik adalah saat2 terbaik untuk buat keputusan keluar di jalan Allah. Dan saat2 ketika iman kita sedang baik adalah saat2 terbaik untuk dapat memahami agama ini. Untuk itu, mari kita melapangkan masa untuk keluar dakwah. Subhanallah.

Subhan ibnu Abdullah
Pattaya, 18/08/2004

No comments:

Post a Comment

Post a Comment