Showing posts with label Kisah Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Kisah Sahabat. Show all posts

Siti Khadijah Wanita Istimewa

DUA PERTIGA (2/3) wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah, isteri pertama Rasulullah SAW. Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan. Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tampalan.


“Fatimah puteriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan serbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri”.


Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.


Siti Khadijah, Ummul Mukminin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didakapnya sang isteri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.


Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.


Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”


“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.


Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”

“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.


Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Wahai Khadijah isteriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan isteri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha mengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”


Tersedu Rasulullah mengenang isterinya semasa hidup.


Khadijah


Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.


Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.


Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.


Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.


“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut. 

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat isterinya menangis.


“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.

"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.


"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jambatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jambatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.


"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.


Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah. “Ya Allah, ya Ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. 


Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”.


Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”


“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib.

jawab ,menantu Rasullulah..


Barakallahu fiikum

From Blogger iPhone client

Rasa Malu Fatimah Az-zahrah

RASA MALU SAYYIDAH FATIMAH
=============================
اللهم صل وسلم عدد من احب النبى والصديق على سيدنا محمد افضل من يدعو الى الحق صلاة وسلاما ننال بهما حسن الرفيق وامان الطريق والفرج من كل شدة وضيق وعلى اله وصحبه ومن بالنبى تعلق

  Suatu ketika Sayyidah Fatimah Azzahra putri tercinta Rasulullah ﷺ berada di depan rumah beliau, tiba-tiba ada janazah yang hendak di bawa kekuburan lewat di depan sayyidah Fatimah Azzahra.

  Saat itu Sayyidah Fatimah bersama Sayyidah Asma binti khumaisy yang biasa menemani dan menghibur Sayyidah Fatimah setelah kepergian Rasulullah ﷺ.

  Tiba-tiba saat itu Sayyidah Fatimah menangis tersedu-sedu hingga
membuat Sayyidah Asma panik lalu bertanya, “wahai putri Rasulullah, kenapa engkau menangis melihat janazah itu? ada apa dengan janazah itu?.”

  Sayyidah fatimah menjawab, "setiap orang yang mati akan dibungkus dengan kain kafan yang rapat lalu akan di bawa kelokasi pemakaman dengan di panggul oleh orang-orang yang membawanya?.” (Dahulu sebelum adanya keranda mayat jika ada orang meninggal maka di saat di bawa ke kubur janazah di panggul di atas pundak orang-orang yang membawanya).

  Sayyyidah Asma menjawab, “Tentu wahai putri Rasulullah?.”

  Kemudian Sayyidah Fatimah melanjutkan, "Dan akupun kelak akan di bawa kekubur seperti itu?.”

  Sayyidah Asma menjawab “Benar wahai putri Rasulullah."

  Lalu Sayyidah Fatimah melanjutkan ”Itulah yang menjadikan aku menangis, sungguh aku sangat malu jika nanti aku meninggal kemudian di bungkus kain kafan dengan rapat lalu di angkat di atas punggung orang-orang yang membawaku kekubur, sementara orang yang mengiring janazahku akan melihatku, sungguh aku sangat malu karena saat itu mereka akan melihat lekuk-lekuk tubuhku."

  Mendengar ungkapan Sayyidah Fatimah ini Sayyidah Asma berkata "wahai putri Rasulullah ﷺ, disaat aku ke negeri Habasyah aku melihat janazah yang di bawa kekubur, janazah diletakkan di sebuah tempat yang di sebut keranda, aku pikir itu bisa menutupi pandangan orang dari melihat lekuk tubuh janazah yang dibawa."

  Mendengar cerita Sayyidah Asma ini tiba-tiba tangis Sayyidah Fatimah terhenti dan wajah beliau berubah berseri-seri sambil berkata ”wahai Asma sungguh aku berwasiat, jika aku mati nanti tolong buatkan aku keranda mayat seperti yang engkau ceritakan agar lekuk tubuhku tidak terlihat saat di bawa kekuburan."

  Dan benar setelah Sayyidah Fatimah meninggal, maka di buatlah keranda mayat untuknya.
Yang perlu di cermati dari kisah ini adalah sifat mulia Sayyidah Fatimah yang senantiasa merasa malu jika ada yang melihat lekuk tubuhnya, meskipun disaat beliau sudah meninggal. Dan karena rasa malu yang dimiliki oleh Fatimah inilah menjadi rahasia, kenapa Sayyidah Fatimah menjadi wanita yang paling mullia dan dicintai Rasulullah ﷺ.

  Dan Saat ini, di hari ini! Adakah sifat mulia sayyidah Fatimah menempel pada wanita yang berada di rumah kita? Atau di rumah kita ada orang yang mengaku mencintai Rasulullah ﷺ akan tetapi di saat masih hidup pun tidak merasa malu jika lekuk-lekuk tubuhnya di saksikan orang di sana-sini. Atau justru pamer lekuk tubuh telah menjadi kebanggan para wanita yang mengaku kenal Sayyidah Fatimah dan kenal Rasulullah ﷺ? Jangan sampai ada yang berkata “yang penting hati bersih masalah dandanan tidak penting."

  Hati Sayyidah Fatimah sungguh jauh dan jauh lebih bersih dari hati wanita -wanita yang kita saksikan saat ini. Justru karena kebersihan hati beliaulah maka Sayyidah Fatimah sangat pemalu dan senatiasa menjaga aurat beliau.

  Ya Allah Yang Maha Pengasih, berikan kasih sayangmu kepada kami dan kepada para wanita wanita kami…
Tutuplah aurat mereka…
Berikan kepada mereka rasa malu yang menjadikan mereka senatiasa menjaga aurat dan kehormatan mereka.

Penyesalan Saat Sakaratulmaut

Al kisah ada seorang sahabat Nabi saw bernama Sya’ban RA.

Dia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain.

Satu kebiasaan yang unik dari beliau iaitu setiap kali masuk masjid sebelum solat berjemaah, dia selalu beritikaf di penjuru depan masjid.

Dia mengambil posisi di penjuru bukan kerana mudah bersandar atau tidur, tetapi kerana tidak mahu mengganggu orang lain, lebih-lebih lagi ketika orang lain beribadah.

Kebiasaan ini sudah difahami oleh sahabat bahkan oleh Rasulullah saw,  Sya’ban RA akan berada di posisi yang sama termasuk saat solat berjamaah.

Suatu pagi ketika solat subuh berjemaah akan dimulakan Rasulullah saw mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di tempatnya seperti biasa.

Nabi saw pun bertanya kepada jemaah yang hadir adakah sesiapa yang melihat Sya’ban RA.

Namun tiada seorang pun jemaah yang melihat Sya’ban RA.

Solat subuh pun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA.

Namun yang ditunggu belum juga datang.

Bimbang solat subuh kesiangan, Nabi saw memutuskan untuk segera melaksanakan solat subuh berjemaah.

Selesai solat subuh, Nabi saw bertanya ada sesiapa yang mengetahui khabar dari Sya’ban RA.

Namun tiada seorang pun yang menjawab.

Nabi saw bertanya lagi ada siapa yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA.

Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui  di mana rumah Sya’ban RA.

Nabi yang khawatir terjadi sesuatu kpd Sya’ban RA meminta dihantarkan ke rumahnya.

Perjalanan dengan berjalan kaki cukup lama ditempuh oleh Nabi saw dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksudkan.

Rombongan Nabi saw sampai ke sana ketika waktu afdhal untuk solat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan dari masjid Nabawi).

Sampai di depan rumah tersebut Nabi saw mengucapkan salam.

Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam.

“Benarkah ini rumah Sya’ban?”
Nabi saw bertanya.

“Ya benar, saya isterinya”
jawab wanita tersebut.
“Bolehkah kami menemui Sya’ban, yang tidak hadir solat subuh di masjid?”

Dengan berlinangan air mata isteri Sya’ban RA menjawab:

“Beliau telah meninggal dunia pagi tadi..."

Innalillahi wainna ilaihirojiun….

Masya Allah, satu-satunya penyebab dia tidak solat subuh berjamaah adalah kerana ajal sudah menjemputnya.

Beberapa saat kemudian isteri Sya’ban bertanya kepada Rasulullah saw.

“Ya Rasulullah saw ada sesuatu yang menjadi tanda tanya bagi kami semua, iaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan setiap teriakan disertai satu pertanyaan. Kami semua tidak faham apakah maksudnya."

“Apakah pertanyaan yang diucapkannya?” tanya Rasulullah saw

Setiap teriakannya dia terucap kalimat:

“Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”

“Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “

“Aduuuh kenapa tidak semua……”

Nabi saw pun bersabda ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 :

_“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“_

Saat Sya’ban dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya diulang tayang oleh Allah swt.

Bukan itu saja, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah.

Apa yang dilihat oleh Sya’ban (dan orang yg sakaratul maut) tidak dapat dilihat oleh orang lain.

Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan di mana sehariannya dia pergi berulang ke masjid untuk solat berjamaah lima waktu.

Perjalanan sekitar 3 jam berjalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat.

Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah² nya ke Masjid.

Dia dapat melihat apakah bentuk syurga ganjarannya.

Saat melihat itu dia berteriak :

“Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”

Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban , mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya memperolehi pahala yang lebih banyak dan mendapat syurga yang lebih indah.

Berikutnya Sya’ban melihat ketika dia akan berangkat solat berjamaah di musim sejuk.

Ketika dia membuka pintu, bertiup angin sejuk yang menusuk tulang.

Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya.

Jadi dia memakai dua helai baju.

Sya’ban sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang lama di luar.

Dalam fikirannya jika terkena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar.

Sampai di masjid dia boleh membuka baju luar dan solat dengan baju yang lebih baik.

Dalam perjalanan ke masjid dia bertemu seseorang yang terbaring kesejukan dalam keadaan yang sangat lemah.

Sya’ban pun hiba, lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama² ke masjid melakukan solat berjamaah.

Orang itu terselamat dari mati kesejukan dan sempat menunaikan solat berjamaah.

Sya’ban pun kemudian melihat indahnya syurga sebagai balasan memakaikan baju luarnya kepada orang tersebut.

Kemudian dia berteriak lagi :

“Aduuuh kenapa tidak yang baru...“

Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban.

Jika dengan baju luar itu saja boleh mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.

Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke dalam segelas susu.

Ketika baru saja hendak memulakan sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberi sedikit roti kerana sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan.

Melihat hal tersebut.

Sya’ban merasa hiba.

Ia kemudian membahagikan dua roti itu sama besar, begitu juga segelas susu itu pun dibahagi dua.

Kemudian mereka makan bersama² roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu, dengan portion yang sama.

Allah swt  kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan syurga yang indah.

Apabila melihat itu dia pun berteriak lagi:

“Aduuuh kenapa tidak semua……”

Sya’ban kembali menyesal .

Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat syurga yang lebih indah.

MashaAllah, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tetapi menyesali mengapa perbuatannya tidak yang terbaik.

Sesungguhnya kita semua nanti pada saat sakaratul maut akan menyesal dengan hal yang berbeza, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya kerana pada saat itu barulah terlihat dengan jelas hasil dari semua perbuatannya di dunia.

Mereka meminta untuk ditunda sesaat kerana ingin bersedekah.

Namun kematian akan datang tepat pada waktunya, tidak dapat dipanjangkan dan tidak dapat diundurkan lagi.

Sya’ban RA telah menginspirasi kita bagaimana seharusnya kita melihat akan janji Allah swt.

Dia ternyata tetap menyesal sebagaimana halnya kita pun juga akan menyesal.

Namun penyesalannya bukanlah kerana tidak menjalankan perintah Allah SWT.

Penyesalannya kerana tidak melakukan kebaikan dengan yang terbaik.

Semoga kita sentiasa boleh memberi kebaikan² yang terbaik di setiap kesempatan.

Dunia hanya sementara akhirat kekal selama-lamanya.
Akhirat yang kekal abadi, Aamiin.

Semoga bermanfaat.

Penyesalan Saat Sakaratulmaut

Al-kisah ada seorg sahabat Nabi bernama Sya’ban r.a.

Ia adalah seorg sahabat yg tidak menonjol di bandingkan sahabat² yg lain. Ada suatu kebiasaan unik dr beliau iaiatu setiap kali masuk msjd sebelum solat berjamaah, dia selalu beritikaf di penjuru depan msjd. Dia mengambil posisi di penjuru bukan krn  mudah bersandar atau tidur, tp krn tidak mahu mengganggu org lain dan tak mahu terganggu oleh org lain dlm beribadah.

Kebiasaan ini sudah di fahami oleh sahabat bahkan oleh Rasulullah s.a.w. Sya’ban r.a. akan berada di posisi tsb termasuk saat solat berjamaah.

Suatu pg ketika solat Subuh berjamaah akan di mulai RasululLah s.a.w. mendapati bhw Sya’ban r.a. tidak berada di tempatnya seperti biasa. Nabi pun bertanya kpd jemaah yg hadir adakah sesiapa yg melihat Sya’ban r.a.

Namun tak seorg pun jamaah yg melihat Sya’ban r.a. Solat subuh pun di tunda sejenak utk menunggu kehadiran Sya’ban r.a. Namun yg ditunggu belum juga dtg. Bimbang solat subuh kesiangan, Nabi memutuskan utk segera melaksanakan solat Subuh berjamaah.

Selesai solat Subuh, Nabi bertanya ada sesiapa yg mengetahui khabar dr Sya’ban r.a. Namun tak ada seorg pun yg menjawab. Nabi bertanya lg ada siapa yg mengetahui di mana rumah Sya’ban r.a.

Kali ini seorg sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bhw dia mengetahui  di mana rumah Sya’ban r.a.
Nabi yg khawatir terjadi sesuatu kpd Sya’ban r.a. meminta di hantarkan ke rumahnya. Perjalanan dgn jln kaki cukup lama di tempuh oleh Nabi dan rombongan sebelum sampai ke rumah yg di maksudkan. Rombongan Nabi sampai ke sana ketika waktu afdhal utk solat Dhuha (kira² 3 jam perjalanan dr msjd Nabawi).

Sampai di depan rumah tersebut Nabi mengucapkan salam.
Dan keluarlah seorg wanita sambil membalas salam tsb.

“Benarkah ini rumah Sya’ban?” Nabi bertanya.

“Ya benar, saya isterinya,” jawab wanita tsb.

“Bolehkah kami menemui Sya’ban, yg td tidak hadir solat subuh di msjd?”

Dgn berlinangan air mata isteri Sya’ban r.a. menjawab:
“Beliau telah meninggal td pg..."

InnaliLahi wainna ilaihirojiun…

MaasyaAllah, satu²nya penyebab dia tidak solat subuh berjamaah adalah krn ajal sudah menjemputnya.

Beberapa saat kemudian isteri Sya’ban bertanya kpd Rasul

“Ya Rasulullah, ada sesuatu yg menjadi tanda tanya bg kami semua, iaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dgn setiap teriakan di sertai satu pertanyaan.
Kami semua tidak faham apa maksudnya."

“Apa pertanyaan yg di ucapkannya?” tanya Rasul.

Setiap teriakannya dia terucap kalimat:

“Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…”

“Aduuuh kenapa tidak yg baru...“

“Aduuuh kenapa tidak semua…”

Nabi pun melantunkan ayat yg terdapat dlm surat Qaaf (50) ayat 22 :
“Sesungguhnya kamu berada dlm keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan drpd  mu hijab (yg menutupi) mata mu, maka penglihatan mu pd hari itu amat tajam.“

Saat Sya’ban dlm keadaan sakratul maut, perjalanan hidupnya di tayangkan ulang oleh Allah. Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya di perlihatkan oleh Allah. Apa yg dilihat oleh Sya’ban (dan org yg sakratul maut) tidak mampu di saksikan oleh yg lain.

Dlm pandangannya yg tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke msjd utk solat berjamaah lima waktu.
Perjalanan sekitar 3 jam jln kaki sudah tentu bukanlah jarak yg dekat.
Dlm tayangan itu pula Sya’ban r.a. diperlihatkan pahala yg di perolehnya dr langkah²nya ke msjd.
Dia melihat seperti apa bentuk syurga ganjarannya.

Saat melihat itu dia berucap:
“Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…”
Timbul penyesalan dlm diri Sya’ban, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lg supaya pahala yg di dptkan lebih byk dan syurga yg di dptkan lebih indah.

Berikutnya Sya’ban melihat ketika ia akan berangkat solat berjamaah di musim dingin. Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dingin yg menusuk tulang. Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lg utk dipakainya. Jd dia memakai dua helai baju.

Sya’ban sengaja memakai pakaian yg bagus (baru) di dlm dan yg jelek (butut) di luar. Fikirnya jika kena debu, sudah tentu yg kena hanyalah baju yg luar. Sampai di masjid dia boleh membuka baju luar dan solat dgn baju yg lebih baik. lm perjalanan ke masjid dia menemukan seseorg yg terbaring kedinginan dlm keadaan yg sgt lemah.

Sya’ban pun hiba, lalu segera membuka baju yg paling luar dan di pakaikan kpd org tsb dan memapahnya utk bersama² ke masjid melakukan solat berjamaah. Org itu pun terselamat dr mati kedinginan dan  sempat melakukan solat berjamaah. Sya’ban pun kemudian melihat indahnya syurga yg sebagai balasan memakaikan baju luarnya kpd org tsb.

Kemudian dia berteriak lg:
“Aduuuh kenapa tidak yg baru...“
Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban.
Jika dgn baju luar itu sj bisa mengantarkannya mendapat pahala yg begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yg lebih besar lg seandainya ia memakaikan baju yg baru.

Berikutnya Sya’ban melihat lg suatu adegan saat dia hendak sarapan dgn roti yg di makan dgn cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Ketika baru sj hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yg meminta di beri sedikit roti krn sudah lebih 3 hari perutnya tidak di isi makanan. Melihat hal tsb. Sya’ban merasa hiba. Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun di bagi dua.
Kemudian mrk makan bersama² roti itu yg sebelumnya di celupkan susu, dgn portion yg sama. Allah kemudian memperlihatkan ganjaran dr perbuatan Sya’ban r.a. dgn syurga yg indah.

Apabila melihat itu dia pun berteriak lg:
“Aduuuh kenapa tidak semua…”
Sya’ban kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kpd pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat syurga yg lebih indah.

Masyaallah, Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tp menyesali mengapa tidak di optimalkan perbuatannya.

Sesungguhnya semua kita nanti pd saat sakratul maut akan menyesal dgn kadar yg berbeda, bahkan ada yg meminta utk di tunda matinya krn pd saat itu barulah terlihat dgn jelas hasil dr semua perbuatannya di dunia. Mrk meminta utk di tunda sesaat krn ingin bersedekah. Namun kematian akan dtg pd waktunya, tidak dapat di majukan dan tidak dpt di undurkan.

Sya’ban r.a. telah menginspirasi kita
bagaimana seharusnya kita melihat akan janji Allah tsb.

Dia ternyata tetap menyesal sebagaimana halnya kita pun juga akan menyesal. Namun penyesalannya bukanlah krn tdk menjalankan perintah Allah s.w.t. Penyesalannya krn tidak melakukan kebaikan dgn optimal.

Baju Raya Anak Khalifah Umar Abdul Aziz

ﺫُﻛِﺮَ ﺃﻥ ﺍﺑﻨﺔ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺩﺧﻠﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺗﺒﻜﻲ، ﻭﻛﺎﻧﺖ ﻃﻔﻠﺔ ﺻﻐﻴﺮﺓ ﺁﻧﺬﺍﻙ، ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻮﻡ ﻋﻴﺪ ﻟﻠﻤﺴﻠﻤﻴﻦ . ﻓﺴﺄﻟﻬﺎ: ﻣﺎﺫﺍ ﻳﺒﻜﻴﻚ؟.
Dikisahkan bahwa putri kecil Khalifah Umar bin Abdul Aziz menangis tersedu di pangkuannya saat hari lebaran. Maka Umar bertanya, "Apa yg membuatmu menangis?!".

ﻗﺎﻟﺖ: ﻛﻞ ﺍﻷﻃﻔﺎﻝ ﻳﺮﺗﺪﻭﻥ ﺛﻴﺎﺑﺎً ﺟﺪﻳﺪﺓ ! ﻭﺃﻧﺎ ﺍﺑﻨﺔ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺃﺭﺗﺪﻱ ﺛﻮﺑﺎً ﻗﺪﻳﻤﺎً !!.
Sang putri kecil menjawab, "Semua anak-anak memakai baju baru. Sementara aku yg putri seorang Amirul Mukminin memakai baju lama..!!".

ﻓﺘﺄﺛﺮ ﻋﻤﺮ ﻟﺒﻜﺎﺋﻬﺎ ﻭﺫﻫﺐ ﺇﻟﻰ ﺧﺎﺯﻥ ﺑﻴﺖ ﺍﻟﻤﺎﻝ . ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻪ: ﺃﺗﺄﺫﻥ ﻟﻲ ﺃﻥ ﺃﺻﺮﻑ ﺭﺍﺗﺒﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺍﻟﻘﺎﺩﻡ ؟.
Khalifah Umar terkesan hatinya mendengar tangisan putrinya langsung menemui bendahara baitulmal dan berkata kepadanya, "Bolehkah gajiku bulan depan engkau berikan sekarang ?!".

ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﺍﻟﺨﺎﺯﻥ: ﻭﻟﻢ ﻳﺎ ﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ؟ ﻓﺤﻜﻰ ﻟﻪ ﻋﻤﺮ !..
ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺨﺎﺯﻥː ﻻ ﻣﺎﻧﻊ، ﻭَ ﻟﻜﻦ ﺑﺸﺮﻁ ؟.
Bendahara bertanya, "Mengapa wahai Amirul Mukminin, ada apa?!".
Khalifah Umar pun menceritakan permasalahannya. Sehingga akhirnya bendahara memakluminya dan berkata, "Gaji bulan depan boleh saya berikan sekarang, tapi dengan satu syarat!.

ﻓﻘﺎﻝ ﻋﻤﺮ: ﻭﻣﺎ ﻫﻮ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﺮﻁ؟ !
Umar bertanya, "Apa satu syarat itu?!".

ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺨﺎﺯﻥ: ﺃﻥ ﺗﻀﻤﻦ ﻟﻲ ﺃﻥ ﺗﺒﻘﻰ ﺣﻴﺎً ﺣﺘﻰ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺍﻟﻘﺎﺩﻡ، ﻟﺘﻌﻤﻞ ﺑﺎﻷﺟﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺮﻳﺪ ﺻﺮﻓﻪ ﻣﺴﺒﻘﺎ ؟!.
Bendahara menjawab, "Wahai Umar, sanggupkah engkau menjamin dirimu hidup sampai bulan depan, agar engkau boleh bekerja dengan gaji yang telah aku berikan di awal ini ?!".

ﻓﺘﺮﻛﻪ ﻋﻤﺮ ﻭﻋﺎﺩ، ﻓﺴﺄﻟﻪ ﺃﺑﻨﺎﺅﻩ: ﻣﺎﺫﺍ ﻓﻌﻠﺖ ﻳﺎ ﺃﺑﺎﻧﺎ؟.
Mendengar syarat itu Umar langsung meninggalkan sang bendahara dan langsung pulang. Anak-anaknya bertanya, "Apa yang terjadi wahai ayahku?!".

ﻗﺎﻝ: ﺃﺗﺼﺒﺮﻭﻥ ﻭ ﻧﺪﺧﻞ ﺟﻤﻴﻌًﺎ ﺍﻟﺠﻨﺔ، ﺃﻡ ﻻ ﺗﺼﺒﺮﻭﻥ ﻭﻳﺪﺧﻞ ﺃﺑﺎﻛﻢ ﺍﻟﻨﺎﺭ؟.
Umar menjawab, "Bolehkah kalian sabar agar kita semua masuk syurga; ataukah kalian tak sabar sehingga menyebabkan ayahmu masuk neraka?!".

ﻗﺎﻟﻮﺍ: ﻧﺼﺒﺮ ﻳﺎ ﺃﺑﺎﻧﺎ !.
Mereka menjawab, "Kami sanggup bersabar wahai ayah!".

SEMOGA MENJADI PELAJARAN BESAR

Ibadah Tidak Ikhlas

SIAPA ILAH KAMU? ILAH KAMU DI BAWAH TAPAK KAKI!!

Suatu hari Syeikh Abdul Qadir Jailani didatangi oleh pemuka-pemuka kota Baghdad untuk diajak bersama  dalam satu majlis ibadah malam secara beramai-ramai.

Dia menolak tetapi pemuka-pemuka tersebut berkeras juga mengajak beliau hadir.

Untuk dapat berkat, kata mereka.

Akhirnya, dengan hati yang berat, Syeikh Abdul Qadir bersetuju untuk hadir.

Pada malam berkenaan, di satu tempat yang terbuka,beratus-ratus orang hadir dengan melakukan ibadah masing-masing.

Ada yang bersolat. Ada yang berwirid. Ada yang membaca Quran.

Ada yang bermuzakarah. Ada yang bertafakur dan sebagainya.

Syeikh Abdul Qadir duduk di satu sudut dan hanya memerhatikan gelagat orang-orang yang beribadah itu.

Di pertengahan malam, pihak penganjur menjemput Syeikh Abdul Qadir untuk memberi tazkirah.

Dia cuba mengelak tetapi didesak berkali-kali oleh pihak penganjur.

Untuk dapat berkat, kata mereka lagi.

Akhirnya dengan hati yang sungguh berat, Syeikh Abdul Qadir bersetuju.

Tazkirah Syeikh Abdul Qadir ringkas dan pendek sahaja.

Dia berkata:

"Tuan-tuan dan para hadirin sekelian. ILAH tuan-tuan semua berada di bawah tapak kaki saya"

Dengan itu, majlis terkejut dan menjadi gempar dan riuh rendah.

Para hadirin terasa terhina dan tidak puas hati.

Bagaimanakah seorang Syeikh yang dihormati ramai dan terkenal dengan ilmu dan kewarakannya boleh berkata begitu terhadap ILAH mereka?

Ini sudah menghina ALLAH...

Mereka tidak sanggup ILAH mereka dihina sampai begitu rupa.

Mereka sepakat hendak melaporkan perkara itu kepada pemerintah.

Apabila pemerintah dapat tahu, diarahnya kadhi untuk menyiasat dan mengadili Syeikh Abdul Qadir dan jika diadapati bersalah, hendaklah dihukum pancung.

Pada hari pengadilan yang dibuat di khalayak ramai,Syeikh Abdul Qadir dibawa untuk menjawab tuduhan.

Kadhi bertanya,

"Benarkah pada sekian tempat, tarikh dan masa sekian, Tuan Syeikh ada berkata di khalayak ramai bahawa ILAH mereka ada di bawah tapak kaki Tuan Syeikh?"

Dengan tenang Syeikh Abdul Qadir menjawab,

"Benar, saya ada kata begitu"

Kadhi bertanya lagi,

"Apakah sebab Tuan Syeikh berkata begitu?"

Jawab Syeikh Abdul Qadir

"Kalau tuan kadhi mahu tahu, silalah lihat tapak kaki saya"

Maka kadhi pun mengarahkan pegawainya mengangkat kaki Syeikh Abdul Qadir untuk dilihat tapak kakinya.

Ternyata ada duit satu dinar yang melekat di tapak kakinya.

Kadhi tahu Syeikh Abdul Qadir seorang yang kasyaf.

Fahamlah kadhi bahawa Syeikh Abdul Qadir mahu mengajar bahawa semua orang yang beribadah pada malam yang berkenaan itu sebenarnya tidak beribadah kerana ALLAH...

ALLAH tidak ada dalam ibadah mereka.

Hakikatnya, mereka tetap berILAHkan dunia yang duit satu dinar itu menjadi lambang dan simbolnya.

Kalau di zaman Syeikh Abdul Qadir Jailani pun manusia sudah hilang Allah dalam ibadah mereka, apatah lagi di zaman ini.

Itu dalam ibadah. Kalau dalam hidup seharian, sudah tentu Allah tidak langsung diambil kira.

10 Sahabat Dijamin Syurga


Daripada Abu Dzar RA, bahawa Rasulullah SAW masuk ke rumah Aisyah RA dan bersabda;

“Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar khabar gembira?”

Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.”

Lalu Nabi SAW bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat khabar gembira masuk syurga, iaitu : Ayahmu (Abu Bakar) masuk syurga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk syurga dan kawannya Nuh; Uthman masuk syurga dan kawannya adalah aku; Ali masuk syurga dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya; Thalhah masuk surga dan kawannya adalah Daud; Az Zubair masuk syurga dan kawannya adalah Ismail; Sa’ad masuk syurga dan kawannya adalah Sulaiman; Said bin Zaid masuk syurga dan kawannya adalah Musa bin Imran; Abdul Rahman bin Auf masuk syurga dan kawannya adalah Isa bin Maryam; Abu Ubaidah bin Jarrah masuk syurga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”

Ini merupakan kisah hidup ringkas kesepuluh manusia terhebat itu:


Kezuhudan Para Sahabat

Kezuhudan Abu Bakar

Ahmad mengeluarkan dari Aisyah r.ha, dia berkata, "Abu Bakar meninggal dunia tanpa meninggalkan satu dinar maupun satu dirham pun. Sebelum itu dia masih memilikinya, namun kemudian dia mengambilnya dan menyerahkannya ke Baitul-mal." Begitulah yang disebutkan di dalam Al-Kanzu, 3/132.

Ibadah yang Sia-sia

Seorang sahabat telah mujahadahkan diri dia dalam beribadat kepada Allah s.w.t. Umar r.a lalu di depan menara rahib itu dan berkata, “Bawa dia turun dari menara”. Wajah dia telah pucat kerana mujahadahnya, kurus kering, tanggung kesusahan, kehidupan yang susah, tidak makan, tidak minum, jalani kehidupan ‘rahbaniah’. Pilih semua kesusahan yang ada dalam ibadat.

Masuk Syurga dan Neraka Asbab Lalat

Thariq bin Syihab menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Ada seseorang yang masuk surga sebab seekor lalat, dan ada pula seseorang yang masuk neraka sebab seekor lalat ...." (HR Ahmad).

Mangkuk, Sudu dan Rambut

Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan 'Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. isterinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abdullah Bin Jaafar

Diceritakan bahawa pada suatu hari *Abdullah bin Jaafar sedang berpergian. Ketika sampai di sebuah kebun kurma milik seseorang, dia berhenti untuk beristirehat. Didapatinya di situ ada seorang hamba abdi berkulit hitam yang menjaga kebun kurma tersebut. Tiba-tiba hamba abdi itu mengeluarkan bekalnya untuk makan yang berupa tiga potong makanan. Seekor anjing datang menghampirinya dan berpusing-pusing berhampiran si hamba sambil menyalak sebagai tanda ingin merasa makanan itu. Lidahnya pun dihulur-hulurkannya keluar.

Kisah Tiga Pemuda

Kisah ini adalah kisah yang sebenar berdasarkan kepada hadith yang terdapat di dalam kitab Sahih al-Bukhari.